“ Aku mesti bisa mengubah nasibku. Tidak ada yang mampu mengubah jalan hidup seseorang kalau bukan dari orangnya,” bisik Gede Aditya.

Ia hidup dalam kesendirian. Ayahnya telah meninggalkan dirinya untuk selamanya, sedangkan ibunya menikah lagi .

Dalam kesehariannya, ia hidup dengan berjualan surat kabar. Orang menyebutnya sebagai loper koran. Penjaja warta kepada pencinta berita. Aditya tidak tamat SMP. Ia tak kenal baju putih dengan celana biru. Yang sempat dikenalnya hanya celana merah. Tapi, ia tetap bersyukur karena masih sempat belajar membaca.

Sebelum koran – Koran itu dijualnya. I baca dulu hingga bisa sedikit menceritakan kepada pembeli mengenai isinya. “ Berita hangat ! Berita hangat !” Sapanya.” Ada demo. Ada bentrokan antarbanjar. Ada pencurian. Ada koruptor yang lari ke Singapura. Koran ! Koran! Koran !”

Satu, dua  sepeda motor berhenti dan membeli korannya. “ Terima kasih Pak!” sapanya dengan enuh hormat.

Orang – orang itu ngeloyor pergi dan meninggalkannya. Aditya kembali memanggil – manggil pembeli. “ Koran ! Koran! Ada perampokan di siang bolong. Ini lihat ! “ Gede Aditya memperlihatkan gambar orang yang diikat. Mulutnya disumpal dengan kain.

“ Cari satu, Dik!”

“ Terima kasih, Pak.”

Aditya dikenal sebagai loper koran yang ramah. Jika ada pembeli, yang hanya baca – baca sambil bolak – balikkan halamannya, ia tak marah.  Hitung – hitung cari teman.

Ia  menghitung penjualan korannya di hari itu. Lumayan lakunya. Ucapan syukur tiada henti – henti ia panjatkan.” Terima kasih Hyang Widhi. Kau masih memberikanku hidup.”Ia pulang. Ia hanya bekerja setengah hari. Sorenya ia pergunakan untuk mengembalakan sapinya. Hampir tidak waktu luang untuknya. Masa – masa remajanya  telah tergantikan dengan deraan hidup.

Aditya  tegar. Ia tak menyerah pada hidup. Keyakinannya pada hidup dapat diubah oleh dirinya sendiri teramat kuat. Orang – orang di banjarnya mengenalnya sebagai laki – laki yang tangguh.

Tangannya kuat.” Karunia Tuhan ini meski kumanfaatkan secara lebih baik. Ia mesti bermakna.Tangan jika tidak dipergunakan dengan baik, tidak  akan menghasilkan apapun.”

Jika tetangga punya kerja sekalipun Aditya tak pernah mangkir. Kecekatannya dalam kerja tak ada yang  bisa menyainginya. Itu  karena ia  terbiasa dengan kekerasan hidup.

Rasa belas kasihan banyak bermunculan di antara tetangga dekatnya. Jika  hari – hari tertentu Aditya sering dikirimi makanan. Lebih – lebih pada saat odalan di suatu pura.  Ia hanya bisa berucap,” Terima kasih.”

Ia tak pernah bersedih. Tak pernah menangisi perjalanan hidupnya. Tak pernah lagi ingat pada ibunya yang telah meninggalkannya. Meski ia tak diperhatikan oleh ibunya, hatinya tak ada kebencian. Ia tetap sayang dan hormat pada ibu kandungnya. Karena seorang ibu, ia bisa terlahir menjadi manusia.

Malam itu tumben  ia bermimpi didatangi oleh ayahnya. Wajah ayahnya sedikit sedih. Agak pucat. “ De, jagalah dirimu. Ayah tidak bisa menjaga dirimu. “

“ Terima kasih Bapa. Tiang akan selalu ingat pada pesan Bapa.”

Gede Aditya memperhatikan ayahnya. Ia lihat ayahnya muntah – muntah dan tubuhnya semakin kurus.

“ Bapa kenapa? Bapa sakit?”

Ayahnya tak menyahut. Aditya melihat ribuan ulat mengelinjang ke luar dari mulut ayahnya.

“ Ini perbuatan ibumu?”

“ Benar Bapa?”

“ Ibumu telah meracun bapa.Ibumu diperalat oleh suaminya sekarang.Bapa mengetahui kelakuan ibumu. Ia berselingkuh dengan  seorang kepala desa. Suaminya sekarang. Ibumu silau dengan jabatan.”

“ Tiang tak percaya Bapa.”

“ Nanti Gede akan percaya. “

Gede Aditya gelagapan. Tubuhnya berkeringat. Ia mengejap – ngejapkan matanya. “Benarkah mimpiku tadi?” tanyanya. “ Aku tak yakin akan mimpi tadi. Mimpi hanya sebuah ilusi yang tak perlu dipercaya.”

Aditya kembali mempersiapkan koran – koran yang akan dijualnya hari itu. Pukul setengah empat pagi, ia sudah bangun. Koran – koran dari percetakan biasanya pukul lima pagi sudah datang. Ia mendatangi pengepul koran. Ia hitung.  Satu,dua tiga,empat dan seterusnya sampai jumlahnya dikira cukup. Ia baca satu koran sebagai bekal menjajakan koran.

“ Gimana De, sudah cukup?”

“ Tiang kira cukup. Ini ada berita anyar  lagi.”

“ Tentang apa?”

“ Biasa tentang koruptor yang melarikan diri. “

Gede Aditya meringis. Ia merasa heran. “ Kenapa orang – orang yang sudah berkecukupan tidak pernah merasa cukup. Uang haram itu menjadikan dirinya tak punya makna dalam hidup. Tidakkah ada yang lebih baik daripada menilep uang. Ia berpikir ternyata maling berkeliaran di mana – mana.

Ia meraba dompetnya. “ Jangan – jangan dompetku hilang.  Jika uangku tercopet bisa mati, “ gumannya.

Aditya  punya pengalaman yang cukup unik. Uangnya pernah dicopet oleh temannya sesama penjual koran. Hari itu tumben temannya mentraktir makan. Ia ceritakan kemarin dapat memasang togel. Nomornya muncul. Aditya mau saja makan. Setelah sore ia pulang. Ia raba kantungnya. “ Lho ke mana dompetku?”

“ Yusuf ! Yusuf ! Ke sini !”

“ Kenapa?”

“ Pasti kau yang mengambil uangku?”

“ Nggak kok. Berani sumpah.”

“ Benar ! Berani sumpah ? Nanti Pak Haji akan kusuruh me-Yassin- kan dirimu.”

“Jangan ! Jangan De! Aku yang mencuri. Tadi sudah kita makan bersama.”

Keduanya tertawa. “ Dasar anak bandel.”

“ Maaf De. Aku lapar sekali. Tapi, aku kan tak berdosa. Kau juga ikut makan tadi. ”

Aditya memeluk temannya. “Kau pintar juga. Belajar kolusi dari yang kecil – kecil,ya. Kenapa kau tak bilang – bilang. Kita jangan terpengaruh oleh bapak – bapak yang di atas sana. Biarkan ia saja yang menjadi pencuri berdasi. Meski kita loper koran. Kejujuran tetap kita pegang.”

“  Hebat  kau De.”

“ Ayo kita pulang. Hari sudah menjelang sore.” Hari itu tumben beberapa korannya tidak laku. Ia kembalikan lagi pada pengepul. Ia katakan. “ Tiang sudah berusaha menjualnya, tapi tak banyak yang meliriknya.”

“ Mungkin karena sudah mendengar beritanya di TV. “

“ Bisa juga.”

Aditya pulang cepat – cepat. Ia sudah berjanji akan membantu tetangganya yang sedang punya kerja. Ia merasa malu jika tak sempat membantu orang lain. “ Selagi ada waktu berusahalah membantu orang lain.”

Sampai di depan rumahnya, ia seperti melihat seseorang. Ia merasa mengenal orang itu. Ia mengucek – ngucek matanya.

“ Apakah itu ibuku ?  Apakah ini hanya bayangan saja.” Ia lihat ibunya menangis.

“ Ke sini De. Ke sini De! Peluklah ibumu.”

Aditya terus mendekat. Saat mendekat, ia memeluk angin. “ Ah, aku terbawa ilusi.” Ia duduk sambil menarik nafasnya dalam – dalam. “ Ada apa dengan ibu?” bisiknya. “ Apakah ibuku sakit?”

Tetangganya  memanggil – manggil namanya.

“ Ada apa tanyanya?”

“ Ayo ikut aku ke rumah sakit!  Ibumu   dimutilasi .”

 

 

Catatan :

Banjar              : nama organisasi masyarakat di Bali

Bapa                : ayah

Hyang Widhi : Tuhan

Odalan            : hari kelahiran, upacara

Pura                 : tempat suci agama Hindu

Tiang               : saya