Bulan: November 2013

Cerpen Preman

Kakakku seorang preman. Tubuhnya penuh dengan tato. Beragam lukisan tertera di tubuhnya. Merasa bodinya besar dan tulang – belulangnya gede – gede, tidak ragu – ragu dalam menggertak orang. Ototnya yang kekar dimanfaatkan sebaik- baiknya. Ia mengumpulkan teman – temannya sesama preman. Ia mengharapkan dukungan dari teman – temannya. Kakakku berkeinginan menjadi anggota dewan. Beberapa temannya dengan senang hati mendukungnya. Nasib keberuntungan dating. Kakakku terpilih . Suara yang memilihnya pun lumayan besar. Ia dilantik mewakili menjadi anggota dewan. Aku senang kakakku mewakili suara rakyat. Setelah duduk mewakili rakyat, kakakku semakin menjadi idola. Ia benar – benar menyuarakan yang terwakili. Setiap ada sidang, kakakku paling bersuara. Kalau tidak sempat bersuara, ia akan mencak – mencak. Yang paling unik saat sidang paripurna, kakakku sampai beradu otot setelah beradu otak tak kuat lagi. Otot  kakakku lebih berperan dibandingkan  otaknya.  Maklum saja, di SD sampai tiga kali tidak naik kelas. Pertama karena nilainya yang kurang. Kedua karena kenakalannya yang susah diatur. Ketiga karena jarang sekali bersekolah. Setelah tamat SD, ayahku sebenarnya merasa malu untuk meminta bantuan sama temannya yang bekerja di Diknas. Tapi, kakakku terus memohon agar disekolahkan pada sebuah sekolah negeri. Ayahku terus didesak. Jika tidak bisa masuk di sekolah negeri, kakakku akan minggat. Ayahku jerih. Ia dengan berat hati memasukkan ke sekolah negeri. Dan diterima. Di SMP sama juga bahkan, semakin menggila. Ia memiliki geng motor. Setiap Sabtu, berkumpullah teman –...

Read More

Cerpen Presiden

Sahabatku Wulang. Terkadang kupanggil Langu. Keindahan kira- kira maknanya. Lelaki yang kukenal di Jogya dulu. Perkenalan kami saat makan di Malioboro. Makan lesehan sambil menikmati masakan khas kota Jogyakarta, gudeg. Saat itu, aku pas berhadap – hadapan. Ia di depanku. Ia tidak makan. Cuma memesan kopi jahe. “ Kenalkan,aku Wulang.” Aku menjabat tangannya. “ Aku Nyoman.” “ Aku sudah tahu.” “ Lho kok sudah tahu?” Aku balik bertanya. “ Nyoman kuliah di UGM. Jurusan Filsapat.” “ Benar!” Aku sedikit heran. Kenapa ia begitu kenal denganku? Padahal aku sendiri tidak tahu siapa Wulang. Jangan – jangan punya mata –mata. “ Bang Wulang kuliah di mana?” “ Aku kuliah di Malioboro.” Kami tertawa. Semenjak perkenalan itu, hampir setiap Sabtu kami bertemu. Aku juga ingin tahu siapa sebenarnya Wulang. Kutanyakan pada penjual gudeg. “ Mbak Rika kenal dengan Wulang?” “ Siapa yang tak kenal dia. Ia Presiden Malioboro.” “ Ah, Mbak ngerjain .” “ Benar . Ia Presiden  di sini. Tentu berbeda  dengan presiden di  Jakarta sana. Presiden Malioboro tak pernah dapat gaji. Tidak ada Paspanpres. Tidak ada mobil yang pakai sirena itu. Presiden Malioboro melepaskan diri dari keterikatan. Kudengar juga ia keturunan raja. Tapi, ndak mau jadi raja.  ” Mbak Rika tertawa. “ Kok Mbak tertawa?” “ Mbak ingat dengan kisah Sutasoma. Ia ndak mau menjadi raja. Lebih suka dengan petualangan menemukan Sang Diri. Kalau sekarang, mana ada seperti itu. Pasti...

Read More

Cerpen Serigala

Pamanku serigala bagiku. Ia telah mempermalukan diriku. Ia merengut masa depanku. Ia disegani di masyarakat. Ia dikenal sebagai seorang yang arif dan bijaksana.Tapi, itu hanya kamuflase untuk menyembunyikan aliran nafsunya yang terus bergelora. Senyumnya seperti menyiratkan kedamaian.  Tapi, aku justru ketakutan.  Yang kutemukan hanya kengerian bagaikan taring –taring yang berlepotan  dengan racun. Beberapa temanku mengidolakannya. Ia dianggapnya sebagai pembimbing. Perhatian dengan anak – anak muda . Pintar bergaul. Tutur katanya tak pernah lepas dari kitab – kitab suci. . Penuh dengan petuah – petuah yang seakan – akan menyejukkan. Aku sendiri tak tahu. Kenapa aku terbius oleh kata – katanya.? Apakah karena ia pamanku atau karena aku kehilangan figur? Atau karena aku sudah masuk  perangkapnya. Jika saja  tidak terbius dengan tutur katanya, mungkin tak akan menjadikanku seperti sekarang ini. Paman mengajakku sembahyang ke suatu tempat suci. Ia tahu ayah dan ibuku tak pernah akur. Katanya  agar aku lebih tenang, damai, tak terlalu bergejolak. Di samping melepaskan tekanan jiwa yang kualami. Tempat suci itu berada di pinggir laut. Deru ombak dan kepakkan burung camar seakan –akan membawaku ke alam mimpi. Saat itu,  bukan sembahyang yang kulakukan. Pamanku  merayuku. Ia ceritakan bahwa kehidupan rumah tangganya tidak harmonis lagi. Istrinya jarang peduli dengannya. Bahkan, ia mengaku seperti hidup dalam sebuah penjara. Aku tak tahu arah perkataannya? Aku hanya terdiam. Sebuah kalung mutiara ia keluarkan dari sebuah kotak berwarna merah muda. Ia serahkan...

Read More

Cerpen Natalia

Gadis manis itu kupanggil Natalia. Ia mengaku lahir tanggal 25 Desember. Tapi,tahunnya tidak pasti. Orang tuanya memundurkan tahunnya agar lebih cepat dapat diterima di sekolah. Natalia memang cerdas.  Di kampus, ia selalu mengalahkanku. IP-nya selalu mengatasiku. Padahal, aku sudah berusaha mengatasinya  dengan belajar lebih maksimal . Toh juga, aku selalu lebih rendah darinya. Aku dan Natalia kebetulan satu jurusan sama – sama belajar bahasa Jepang di UGM. Universitas yang menghasilkan anak – anak bangsa yang cerdas. Jika malam Minggu, kami tak pernah melewatkan menapaki jalan Malioboro. Kumpul – kumpul dengan teman – teman dari universitas lain. Yang kami diskusikan lebih banyak tentang nasib bangsa. Kadang – kadang kami selingi dengan diskusi sastra. Kami tidak mau kalah. Lebih – lebih Natalia. Ia paling suka membacakan puisi – puisi Jepang, Haiku  dan Tangka. Aku suka caranya membacakannya dan mendiskusikan isinya. Ia juga suka buat puisi – puisi Jepang dalam bahasa Indonesia. Ia memang jarang mendukumentasikan puisi – puisinya. Aku yang paling getol menuliskannya saat ia membacakannya. Sengaja aku tak kasi tahu jika kutuliskan puisi – puisinya. Hampir ada puluhan puisi yang dituliskannya. Aku suka puisinya. Satu puisi yang kuingat berjudul Natalia. Tumbuhlah slalu/ natalia cintaku/ terangi kalbu// Puisi – puisinya itu kukirimkan padanya. Lucunya ia memuji puisi yang kukirimkan. Aku tertawa dalam hati. Ia tak ingat lagi itu puisinya. Hari – hari kuliah kami amat bahagia meski mata kuliah yang kudapatkan...

Read More

Cerpen Kuda Putih

Kuda putih yang kudapatkan di Sumba itu terus meringkik. Suaranya nyaring membangunkan denyut – denyut jantungku. Aku memang penghobi kuda. Aku sering digelari pakatik oleh tetanggaku. Kelakuanku mirip seperti Nakula – Sahadewa  saat penyamarannya dulu. Setiap hari, aku mesti bangun lebih pagi. Kotoran kudaku kubersihkan. Kotorannya kukumpulkan dan kusiapkan untuk bunga –bunga melati yang sengaja kutanam dekat kandang kudaku. Bunganya mewangi. Memutih dan semakin putih. Ringkikan kudaku seperti melantunkan terima kasih. Ia jilati punggungku.Ia liuk – liukkan tubuhnya di depanku. “ Hep hep hep ! “ Aku mengelus – elus tubuhnya. Ia mangguk – mangguk. Ekornya dikipas – kipaskannya. Aku memelihara beberapa kuda. Warnanya pun beragam. Ada yang cokelat. Ada yang hitam. Yang hitam  sering kupanggil si kuda hitam. Ada yang sedikit kemerah –merahan., kupanggil si kumbang . Yang paling kugemari si kuda putih. Ia agak beda. Bulunya  mengkilat  putih. Telah banyak pecinta kuda yang ingin memilikinya. Rata – rata mau menawar. Harganya pun lumayan mahal. Ada yang mengaku dari Yogyakarta. Ada yang mengaku dari Mataram. Ada yang mengaku dari Jakarta. Bahkan, ada yang berani menaruh uang di rekeningku. Kapan saja aku melepaskan si kuda putih, pembeli – pembeli itu siap memabayar mahal. Yang tergoda siapa lagi kalau bukan istriku. Ia bukannya ikut menjaga kuda putihku sebaliknya menyuruhku agar  cepat – cepat saja melepaskannya. Pikirannya sederhana . Dapat uang belikan mobil. Hidup mewah. Foya – foya. Belanja ke swalayan....

Read More