Bulan: September 2013

Puisi Remaja antara Cinta dan Peduli Sosial

Masa remaja sebagai masa transisi dari masa anak – anak menuju masa dewasa. Pada masa ini, ditandai dengan banyak perubahan baik fisik maupun psikhis. Masa remaja terjadi benturan – benturan dalam dirinya maupun dengan lingkungannya. Paling tidak lingkungan terdekatnya, keluarga, misalnya. Tidak jarang remaja berani melakukan perlawan baik secara pasif maupun aktif. Pada masa transisi inilah perlu adanya tempat penyaluran untuk mewadahi gejolak jiwanya. Puisi sebagai salah satu alternatif tempat yang positif untuk penyalurannya. Dengan membangun kreativitas melalui puisi, minimal menghindarkan diri dari hal – hal yang mengganggu perjalanannya. Remaja akan merasakan bahwa masa remaja benar – benar bermanfaat bagi dirinya dan juga bagi lingkungannya. Tema Percintaan Meski diakui tema percintaan dominan dalam puisi remaja, hal ini tentu tidak bisa dilepaskan dari masa – masa merasakan cinta lawan jenis . Jatuh cinta, cintanya bertepuk sebelah tangan maupun cinta berjalan mulus adalah hal – hal yang menarik bagi seorang remaja. Puisi bertema percintaan ternyata mampu menciptakan metafora – metafora baru sebagai salah satu pertanda sebuah kreativitas. Metafora menurut Rachmat Djoko Pradopo ( 1987 : 66) metafora terdiri dari dua term atau dua bagian, yaitu term pokok ( principal term) dan term kedua ( secondary term). Term pokok disebut juga tenor, term kedua disebut juga vehicle. Term pokok atau tenor menyebutkan hal yang dibandingkan sedangkan term kedua atau vechile adalah hal yang untuk membandingkan. Metafora – metafora sebagai kekuatan dalam sebuah...

Read More

Perempuan – perempuan Tertindas dalam Sastra

Penindasan terhadap perempuan tampaknya menjadi sumber inspirasi yang tak pernah kering. Penindasan itu bisa berlatang belakang karena rezim yang berkuasa,  poitik yang berkuasa.  Penindasan juga karena faktor keinginan akibat tekanan ekonomi dan keinginan meninggikan status sosial. Maman S. Mahayana ( 2007: ix)  dalam kata pengantar Laut dan Kupu – Kupu kumpulan cerpen Korea mengatakan sastra merupakan ekspresi kegelisahan pikiran dan perasaan manusia individu pengarang yang mengungkapkan peri kehidupan masyarakat di sekelilingnya, memantulkan potret zamannya, dan menegaskan harapan – harapan, visi, obsesi, atau bahkan kecemasan tentang masa depan kehidupan masyarakatnya, maka sesungguhnya sastra dapat digunakan sebagai pintu masuk mempelajari dan memahami kebudayaan sebuah bangsa. Tampaknya karya – karya cerpen yang terkumpul dalam Cerita tentang Rakyat yang Suka Bertanya dapat diurai mengenai hal di atas. Karya sastra menurut Sutardi dalam kata pengantar Sastra Eksistensialisme- Mistisisme Religius ( 2010: vi)  tak pernah terlepas dari sistem sosial budaya yang melingkupinya. Oleh karena itu, karya sastra bisa merupakan gambaran yang melukiskan realitas sosial tanpa harus menyatakan sikap terhadap sistem sosial. Tak Miliki Makna Kumpulan cerpen Cerita tentang Rakyat yang Suka Bertanya memuat sembilan cerpen,(1) Bagaimana Berpolitik Melalui Seekor Kodok oleh A.S. Laksana;(2) Cerita tentang Rakyat yang Suka Bertanya oleh FX Rudy Gunawan;(3) Monolog Tongkat Catatan Harian Seorang Penyair Buta oleh Irwan D. Kustanto;(4) Festival Topeng Nasional oleh Lan Fang;(5) Para Pencerita oleh Linda Christanty; (6) Wasiat untuk Cucuku oleh Martin Aleida; (7) Menjadi Anjing...

Read More

Pembelajaran Puisi Remaja

Pendahuluan Remaja ternyata penuh dengan kreativitas. Salah satu kreativitas remaja adalah menciptakan karya sastra berbentuk puisi. Puisi sebagai media untuk mengungkapkan kemarahannya, kebenciaannya, dan juga kasih sayangnya terhadap sesama, Tuhan, dan juga kesadarannya terhadap lingkungan hidup. Masa remaja jika tidak disalurkan melalui hal – hal yang positif dan konstruktif akan menjadikan masa remaja itu masa yang rawan. Seperti yang dikatakan oleh Farah Agustin(Bali Post, Minggu, 20 Desember 2009 halaman 4) masa remaja atau usia muda adalah usia paling rawan dalam kehidupan anak – anak.Salah mendidik anak akan menjadikan sosok yang angkuh, egois, dan pemberontak. Sebagai penghargaan terhadap kreativitas karyanya berupa puisi perlu dibelajarkan di dalam kelas maupun di luar kelas. Pembelajaran puisi pada intinya mengharapkan agar anak didik mampu mengapresiasi sebuah karya puisi. Di dalam sebuah puisi terkadung niilai – nilai kemanusian yang dapat dijadikan pedoman dalam kehidupan sehari – hari. Puisi remaja ternyata tidak hanya mengungkapkan masalah – masalah yang berkaitan dengan dunia remaja. Penulis puisi remaja juga mengungkapkan kritik dan penilaiannya terhadap kehidupan sosial, ketimpangan social. Dan pandangannya terhadap dunia – dunia yang menurutnya sering timpang, tidak sesuai dengan harapan. Remaja bukanlah generasi yang berdiam diri melihat perubahan sosial . Remaja juga mampu menyuarakan ketimpangan – ketimpangan sosial. Di samping mengungkapkan dunia remajanya yang ditandai dengan permasalahan cinta, kasih sayang terhadap lawan jenis, putus cinta, misalnya. Nyoman Tusthi Eddy ( 1984 : 90) menyatakan bahwa puisi remaja...

Read More

Inter dan Antargeguritan Basur

Geguritan berasal dari kata gurit bermakna ‘ gubah; karang; sadur’ . Geguritan adalah cerita dalam bentuk puisi yang dapat dinyanyikan ( Kamus Bahasa Bali Indonesia, 2005 : 289) . Geguritan sebagai salah satu karya sastra tradisional memiliki ciri  tersendiri. Pertama, geguritan terikat pada jumlah larik dalam satu bait / pada. Kedua, tiap – tiap bait jumlah larik atau barisnya dalam hitungan tertentu, misalnya ginada, satu bait berjumlah tujuh larik atau baris. Ketiga, jumlah suku kata dalam tiap larik mengikuti hitungan yang tetap, misalnya, delapan suku kata baris pertama. Keempat, persamaan bunyi atau rima akhir yang selalu sama dalam bait – bait berikutnya,. Ginada, misalnya  baris pertama 8-a,baris kedua 8-i, baris ketiga 8- a, baris keempat 8-u, baris kelima 8-a, baris keenam  4-i, baris ketujuh 8-a.  Aturan – aturan itu bersifat baku. Terkadang seorang penulis geguritan melakukan perubahan ucapan terutama pada bunyi terakhir karena terbentur pada bunyi rima akhir, misalnya / punika /karena terbentur bunyi diubah menjadi / puniku/ yang bersinonim bermakna ‘ itu ‘ Hal ini dilakukan karena kesulitan mencari padanan kata yang tepat untuk kata yang dimaksud. Meski seorang penulis geguritan hendaknya memiliki beragam kosakata, kaya akan rasa kata, dan makna kata. Penulis juga mengalami kesulitan dalam mencari kata yang tepat mewakili makna yang dimaksud. Geguritan Basur Geguritan Basur sebagai karya seni banyak menginspirasi seniman – seniman lain. Geguritan ini telah digubah menjadi seni pertunjukan drama tari arja....

Read More

Dari Geguritan ke Novel

Geguritan Basur  hasil cipta Ki Dalang Tangsub telah menggugah seniman – seniman lain. Baik seni dramatari, khususnya arja, seni pencalonarangan dengan lakon Basur. Tokoh  Basur terkesan mistis dalam setiap pementasan. Basur identik dengan dunia pangeleakan yang ada di Bali. Basur merupakan tokoh hidup yang mewakili dunia mistis. Setiap membicarakan tentang pangeleakan, Basur selalu hadir. Inilah salah satu kehebatan dari Ki Dalang Tangsub yang mampu menghidupkan tokoh. Tokoh Basur tidak berasal dari tokoh – tokoh yang berlatar belakang istana, seperti layaknya cerita klasik. Ia berasal dari rakyat jelata hanya dikatakan perekonomiannya di atas rata  – rata dibandingkan dengan masyarakat yang ada di desa Karangsari.Cuma di antara masyarakat Karangsari, Basur dikenal menguasai pangeleakan. Hal – hal di atas tampaknya menggugah para pengarang  untuk mengabadikan tokoh Basur dalam karya – karyanya. Salah satunya karya novel dari Kanduk Supatra, Ki Gede Basur antara Asmara dan Ilmu Hitam. Buku ini dicetak oleh Panakom. Kanduk Supatra jelas – jelas mengatakan bahwa ia mengambil sumber dari Geguritan I Gede Basur yang ditransliterasikan oleh Made Sanggra. Ada perbedaan antara Geguritan Basur dalam Kidung Prembon dengan Geguritan I Gede Basur karya Ki Dalang Tangsub yang transliterasi oleh Made Sanggra ada penambahan tokoh Ni Garu yang mengalahkan I Basur. Dalam Kidung Prembon, tokoh Basur tidak dikalahkan.Basur disadarkan oleh Ki Balian. Tidak ada kalah dan menang. Keduanya menyatakan diri berjalan sesuai dengan swadarmanya ( tugas dan kewajibannya masing- masing), Dharma...

Read More