Berbahasa memerlukan sebuah etika. Keteraturan dan tatakrama berbicara berdampak pada mitra tutur. Dampak itu bisa melekat pada mitra tutur. Tidak jarang sebuah perselisihan akibat dari bahasa yang terucapkan. Sebuah kata terucap kurang tepat , akan memengaruhi psikhis orang yang mendengarnya. Dampak psikhis ini bisa  berupa ketersingungan yang berakibat pada permusuhan.

Untuk itulah, berwicara hendaknya memperhatikan etika. Minimal siapa yang diajak berwicara? Apa yang disampaikan,? Apa tujuan penyampaiannya ? Ada apa dibalik yang terucapkan? Seseorang yang memahami etika wicara berusaha yang disampaikannya berjalan di dalam koridor kebenaran. Artinya, berusaha memperkecil ketersingungan pada orang lain ( mitra tutur).

Bahasa sebagai sarana komunikasi tidak bisa dipungkiri lagi. Melalui kekuatan bahasa seseorang bisa  menyampaikan ide, gagasan, sikap kepada orang lain. Konsep mengodekan  kode bahasa kepada orang lain, baik itu pendengar maupun membaca. Pembaca dalam pikirannya akan mendekodekan lagi. Proses ini berjalan antara penutur dengan mitra tutur.Dalam kenyataannya tidaklah semua yang terkonsep dalam pikiran pembicara, penulis dapat tersalurkan melalui bahasa atau boleh dikatakan bahasa sendiri memiliki beberapa kelemahan. Kelemahan – kelemahan bahasa bisa dari internal bahasanya maupun dari unsur pendukung bahasa, misalnya faktor sosial yang beraneka ragam.

Sebuah tuturan lisan maupun tulis seorang pembicara maupun penulis amat memperhitungkan aspek etika  berwicara. Dengan bahasa yang beretika manis  didengar sehingga mitra tutur tidak merasa disakiti hatinya. Dalam Hindu, Kekawin  Niti Sastra, ada konsep penggunaan bahasa yang amat mulia. Dari berbahasa akan mendapatkan kebahagiaan ( manemu laksmi), mendapatkan penderitaan ( manemu duhka), mendapatkan sahabat, teman , dan merukunkan persaudaraan ( manemu mitra) dan bahasa juga dapat mendapatkan bahaya ( pati kapangguh). Tampaknya dalam Geguritan Basur kemampuan, kemauan  berbahasa yang beretika inilah amat ditekankan.

Beberapa tokoh tidak bermain – main dengan bahasa karena menyadari kesalahan berbahasa akan berakibat fatal. Dampak yang ditimbulkan dari bahasa yang terucap bisa selamanya. Dampak itu itu bisa positif maupun negatif. Dampak positifnya seperti yang tertera dalam Niti Sastra ( manemu laksmi dan manemu mitra) dampak negatifnya ( manemu duhka dan pati kapangguh). Tokoh – tokoh dalam Basur benar – benar menghargai hakikat bahasa sebagai sarana komunikasi. Maka, dipilihlah etika dalam berbahasa. Etika menghargai mitra tutur. Mitra tutur sebagai penguasa atau orang yang disegani ataupun sebagai saudara ataupun terhadap anak.

Beretika dalam Wicara

I Nyoman Karang menyadari kekuatan dari sebuah pembicaraan.Karena itu ia amat beretika dalam berwicara. Etika wicara ini berkaitan dengan norma – norma sosial dan sistem budaya yang berlaku dalam suatu masyarakat ( Abdul Chaer,2010 : 6 ). Wicara yang keluar hendaknya berasal dari kebenaran bukan dari kemampuan membohongi orang lain dengan bahasa. Bahasa yang kotor datangnya dari pikiran yang kotor juga. Saat tertawa pun ada etikanya. Tertawa yang kurang tepat bisa membuat orang lain tersinggung. Misalnya, saat orang bersedih hendaknya tertawanya jangan sampai keras – keras agar jangan dianggap tak bisa menjaga mulut. Berbicara dengan jelas, tegas, pasti tidak mengada –  ada apalagi dalam berbicaranya ingin membohongi mitra tutur hendaknya dijauhkan lebih – lebih pada orang yang patut dituakan. Bahasa yang digunakan benar – benar dipilih dan terpilih : eda bogbog mudah raos, kedéké depang tunain, alepang déwa sekenang, mamunyi eda samar saru, eda linyok ring braya, para wargi,  ring rerama tulah bahana ( jangan berbohong mudah berbicara, tertawa perlu diperhatikan, beretika engkau hendaknya, berbicara jangan tidak jelas, jangan berbohong pada orang lain, pada orang – orang, pada tetua karena berani dampaknya ).

Dari petikan di atas, I Nyoman Karang amat mewanti – wanti agar anaknya ( Sokoasthi dan Ni Rijasa) menjaga betul bahasanya. Bahasa yang kurang tepat saat diucapkan akan membuat mitra tutur menjadi kurang segan terhadap kita. “ Mulutmu harimaumu” pepatah itu tampaknya tepat digunakan untuk melukiskan harapan dari I Nyoman Karang. Ia tidak ingin anaknya menemui bahaya dari bahasa yang diucapkannya.

Sedari kecillah sudah ditanamkan agar bisa berwicara yang beretika, secara santun. Pembiasaan berwicara yang beretika yang santun akan melekat pada diri anak dalam perkembangan selanjutnya. Kesantunan wicara ini sebenarnya secara tidak langsung menghormati diri sendiri atas kemampuan berbahasa yang dimilikinya. Hatilah – hatilah dengan mulut. Sekali mulutmu tak benar akan menghilangkan kepercayaan mitra tutur. Lebih – lebih setelah anaknya menginjak remaja. Masa – masa kritis sebagai remaja disadari oleh I Nyoman Karang. Banyak pria yang akan menggoda dan saat itu perlu benar memerhatikan kesantunan saat menolak lamaran. Anak bagi I Nyoman Karang adalah representasi dari orang tuanya. Tidak jarang perilaku seorang anak, dibandingkan dengan orang tuanya. Seakan – akan karakter orang tua tercermin dari anaknya. Untuk itulah I Nyoman Karang mewanti – wanti agar anaknya bisa menjaga harga dirinya,  keluarganya. Sebuah keluarga bisa hancur karena kelakuan seorang anak begitu juga sebaliknya.Kemuliaan keluarga bisa disebabkna oleh perilaku seorang anak.

Etika Wicara Menolak Lamaran

Menyampaikan lamaran pada orang lain amat memerhatikan bahasa. Terkadang dipilih orang – orang yang yang mampu berbahasa dan dipercaya mampu menyelesaikan sebuah lamaran secara mudah dan meringankan hati, perasaan, dan pikiran. Melamar seorang gadis tidaklah mudah. Terkadang sebuah lamaran bisa batal karena faktor bahasa yang tidak berkenan dengan yang punya anak gadis.

Seorang yang melamar dan  merasa yakin akan kemampuan berbahasa bisa langsung dari orang tua si pria. Seperti I Gede Basur, ia merasa yakin karena kemampuan dan kelebihan – kelebihan yang dimilikinya selama ini. Siapa pun tidak akan berani menolak yang dikehendakinya. Akan tetapi, dalam kenyataannya ada yang tidak terkena dampak dari kekuasaan I Gede Basur. I Nyoman Karang, misalnya. Basur  melamarkan I Tigaron ( anak kesayangannya) agar Nyoman Karang bersedia bermantukan dirinya : beli tuah nunas ica, pianak cainé Sokoastihi, beli ngidih pepatutan, I Tigaron anggén mantu, kanggo cai ngawé wenang, eda metari, keneh cainé kanggoang ( saya minta kesediamu, anakmu Sokoasthi, saya minta yang sebenarnya, I Tigaron jadikan mantu, terserah padamu yang berkuasa, jangan memberi tahu, pikiranmu saja dipakai). Tampaknya I Gede Basur terbiasa dengan kesewang- wenangan dalam bersikap dan berbahasa. Sikap otoriter ingin diterapkan pada Nyoman Karang, sedangkan Nyoman Karang menyadari sikap itu tidak berterima pada dirinya maupun pada orang lain termasuk pada anaknya, Ni Sokoasthi.

Nyoman Karang yang pintar mengolah bahasa mampu menolak lamaran I Gede Basur dengan teramat santun. Harapannya tidak terjadi kesalahpahaman dengan I Gede Basur. Nyoman Karang mengetahui Basur punya beberapa kelebihan yang tidak dimiliki oleh Nyoman Karang. Pengolahan bahasa dipakai untuk menolaknya: I Nyoman Karang angucap, apa kéman tiang beli, sampunang jua gegésonan, apan kekuasan ipun, titiang kari mapuilangan, kéto beli, sadya tan sadya druwénang. ( I Nyoman Karang menyahut, apa kewenangan saya, Kakak, janganlah terlalu cepat, karena ia ( Ni Sokoasthi yang menentukan, saya masih bertimbang, begitulah Kakak, diterima ataukah tidak sama – sama dimaklumi).

Sikap I Nyoman Karang benar – benar santun, beretika  saat menolak lamaran I Gede Basur. Ia tidak berani mengambil sikap yang arogan meski terhadap anaknya sendiri. Anak berhak memilih dan menentukan pilihannya sendiri. Itulah yang diharapkan oleh I Nyoman Karang. Akan tetapi, Basur tidak seperti itu. Setiap yang dikehendakinya mesti dituruti. Sikap penolakan ini dilakukannya karena ingin menghargai anaknya yang juga punya sikap.

Etika Mengalihkan Wicara

Seorang penutur terkadang terjadi pergolakan dalam dirinya antara dirinya dengan kepentingan orang lain. Penutur yang piawai mengolah bahasa akan berusaha mengalihkan arah wicaranya sehingga tokoh yang diajak berbicara terlebih dahulu tidak merasa terganggu harga dirinya. Prinsip kesopanan juga berlaku dalam pemikiran tokoh. Kesopanan dalam wicara menyangkut kebijaksanaan, kemurahan, penerimaan, dan kerendahan hati ( F.X. Nadar, 2009:29).

Dengan menerapkan prinsip berwicara seperti ini diharapkan tidak ada ketersingungan akibat wicara yang diujarkan. Tokoh Nyoman Karang saat mengalihkan wicaranya dengan menyapa I Made Tanu dengan menanyakan dari mana datangnya? Sebuah pembuka pembicaraan kepada seorang tamu yang bertandang ke rumahnya. Etika sebagai tuan rumah maupun sebagai tamu secara sosial terpenuhi : Madé uli dija busan, I Madé Tanu nyaurin, Beli titiang uli jumah, Nunas ica kapilulut, I Thirta ia jumah juang, bangiang driki, Ni Sokoasthi tunas titian ( Made dari mana tadi, I Made menjawab, Kakak saya dari rumah, minta tolong terikat cinta, I Thirta ia ambil, biarkan di sini, Ni Sokoasthi saya pinang).

I Made Tanu sepertinya tidak memperhitungkan Gede Basur yang terlebih dulu datang untuk meminang Ni Sokoasthi. Kurang perhatiannya terhadap harga diri I Gede Basur sebagai tokoh yang disegani tidak dipedulikannya lagi. Semua berhak untuk menyatakan simpatinya dan permintaannya pada I Nyoman Karang. Kemampuan berbahasa I Made Tanu sangat apik. Kerendahhatian ia gunakan untuk meruntuhkan hati I Nyoman Karang dengan berucap,” I Madé Thirta bangiang driki” I Thirta biarkan di sini ( di rumah I Gede Basur). Sebuah teknik memengaruhi I Nyoman Karang agar menaruh simpati pada dirinya.

Sokoasthi Sang Pelanggar Etika

Pada saat berwicara inilah terjadi konflik dalam diri tokoh. Tokoh Basur, tokoh I Nyoman Karang, tokoh Made Tanu, dan juga tokoh Ni Sokoasthi. Ucapan Sokoasthi yang kurang beretika berakibat fatal. Inilah awal dari sebuah permusuhan karena bahasa yang keluar dari mulut kurang beretika.

Seseorang yang lebih dulu datang semestinya diberikan penghargaan lebih dibandingkan dengan yang datang belakangan. Agaknya, Sokoasthi tidak menyadari dampak dari ucapannya yang menyuruh Made Thirta datang ke rumahnya. Penolakan Sokoasthi, secara tidak langsung mengatakan bahwa I Tigaron tidak pantas mendampingi dirinya. Atau, Made Thirtalah pria yang dia pilih. Sebuah wicara yang tidak diharapkan oleh I Gede Basur. Jika Sokoasthi menyadari bahaya yang ditimbulkan akibat wicaranya, niscaya Basur tidak naik pitam. Basur datang dengan maksud menyampaikan isi hati anaknya lantas dirinya dilecehkan di hadapan orang lain. Ia yakin bahwa Ni Sokoasthi tidak akan melakukan tindakan yang kurang beretika. Lebih – lebih Ni Sokoasthi dikenal sebagai perempuan berbudi. Perempuan yang bisa menghargai orang tua. Perempuan yang penuh tatakrama dalam berwicara. Akan tetapi, dalam kenyataannya bisa berlaku kurang etis.

Sebuah wicara yang tidak beretika dilakukan oleh Ni Sokoasthi: Ni Sokoasthi raris ngucap, kema suba bapa mulih, tundén mai belin titian, ngudiang jumah tuah mangulgul, ajak mai énggal – énggal, raris mulih, tan kacrita di jalan  ( Ni Sokoasthi selanjutnya berucap, silakan ayah pulang, suruh kemari kakak saya ( I Thirta) , kenapa di rumah hanya mengganggu, ajak kemari cepat – cepat, selanjutnya pulang ( I Made Tanu), tidak diceritakan di perjalanan).

Menyuruh orang lain ( I Thirta) agar datang ke rumahnya menandakan kurang berharganya Basur di hadapan dirinya. Padahal, berasal dari keluarga yang menjaga etika saat berwicara. Basur tidak terima akan sikap Ni Sokoasthi. Seorang yang terpelajar tidak beretika saat berwicara.

Basur Dilecehkan

Sikap Ni Sokoasthi dengan mengalihkan arah pembicaraan yang dalam inti pembicaraan berisi penolakan terhadap permintaan I Gede Basur. Basur sebagai orang tua merasa dirinya dilecehkan. Tamu yang datang belakangan diresponnya berlebihan, sedangkan dirinya dianggapnya tidak punya arti. Basur menyadari bahwa permintaannya tidak berterima. Sebagai orang tua, ia tidak terima akan sikap Nyoman Karang dan Ni Sokoasthi . Wajarlah Basur marah. Sebagai manusia yang punya harga diri, Basur meninggalkan tempat kediaman Nyoman Karang :I Gedé Basur ia érang, gelis budal tan papamit, sarauhé maring umah, I Tigaron gelis matur, kénkén bapa sida karya, jua mamadik, reramannya jengah ngucap( I Gede Basur ia merasa jengkel, selanjutnya kembali pulang, sesampainya di rumah, I Tigaron cepat berkata, bagaimana Ayah berhasil? saat meminang, ayahnya marah berucap).

Berwicara yang tidak beretika membuat hubungan sosial bisa terputus.Etika saat berwicara hendaknya benar – benar diperhatikan agar mitra tutur tidak merasa tersinggung. Ketersingungan membuat hubungan sosial akan tidak berjalan harmonis. Sebuah komunikasi sosial akan berjalan maksimal jika penutur dan mitra tutur ada saling pengertian. Etika wicara  membuat mitra tutur merasa dihargai harkat dan martabatnya sebagai manusia.