Bulan: September 2013

“Siat Kapetengan“ dalam Basur

“ Siat Kapetengan” merupakan istilah yang lumbrah di kalangan pegiat ilmu gaib. “ Siat Kapetengan” berarti bertempur yang dilakukan pada malam hari. Mengapa malam hari? Malam dipersonifikasikan sebagai tempat yang bebas untuk membangkitkan keilmuan. Pertempuran ini tidak terjadi secara fisik. Kedua pelaku biasanya berada di rumah – masing ? Terus mengapa bisa berkelahi? Perkelahian ini ini terjadi setelah keduanya sama – sama memohon dan dilalui dengan proses nglekas ‘ mengeluarkan mantra untuk menjalankan ilmu hitam; berubah wujud dengan ilmu hitam’ ( Kamus Bali Indonesia,2005:436). Nglekas juga bisa di dalam kamar dan diusahakan agar tidak diketahui oleh keluarga. Seorang yang akan bertempur sama –sama kesatria. Hampir tidak ada pertempuran yang saling keroyok atau main hakim sendiri atau melakukan tindakan mencari bantuan orang lain. Benar – benar sportif. Kalau kalah mengakui kekalahan dan biasanya ada perjanjian. Perjanjian bisa beraneka ragam, misalnya seseorang bersedia menghadap Yangkuasa jika sudah memiliki cucu pertama atau seteleh rumahnya selesai dipugar. Pertempuran itu terjadi karena ingin menjaga harkat dan martabatnya sebagai manusia. Manusia tentu tidak ingin dilecehkan atau direndahkan martabatnya. Adu ilmu  dijalankan. Menguji yang kuat dan yang masih perlu belajar. Ilmu yang berbeda aliran, misalnya antara ilmu hitam dan ilmu putih. Ilmu hitam tergolong ilmu yang digeluti oleh orang – orang yang ingin menjalankan pengiwa. Kelompok pengiwa, misalnya pengleakan. Pengleakan pun ada tingkat – tingkatnya sesuai dengan kemampuan dan anugerah yang diberikan oleh Dewi Durgha. Untuk...

Read More

Basur : Karakter, Peran Ganda Tokoh

Karakter seseorang dipengaruhi oleh faktor lingkungan, dan pembawaan . Manusia yang dilahirkan memiliki fisik dan psikis tidak akan bisa dilepaskan dari faktor pembawaan dan lingkungan. Pembawaan, termasuk bakat, minat, intelektual, emosional. Karakter – karakter dalam diri manusia dapat menjadi inspirasi bagi penulis. Penulis melakukan pengamatan terhadap karakter – karakter yang memengaruhi perkembangan seseorang dan menghidupkan karakter – karakternya dalam tokoh – tokohnya. Karena itulah kesusastraan bisa menjadi wahana persemaian nilai dan praktis moralis yang efektif (Yudi Latif,2009:85).  Nilai – nilai moral, etika, sosial, budaya, adat,  religius tampak dalam tokoh. Tokoh memegang peran yang penting dalam sebuah karya sastra. Karya sastra akan semakin hidup jika dinikmati, dirasakan dan diresapkan nilai – nilainya. Paling tidak ada yang menempel di dalam rasa. Itu berarti sebuah karya sastra tidak hanya sakadar dibaca atau dinikmati, tetapi juga menyingkap makna yang tersembunyi hingga dapat dimengerti, dihayati, diinterpretasi ( Damhuri Muhammad,2010:v). Geguritan Basur menyimpan beragam makna yang bisa digunakan sebagai sarana untuk membangun karakter  yang menurut ( Jendra, 2009 : 10 ) etis moralis. Keragaman karakter tokoh  dalam Geguritan Basur sebagai penanda bahwa Ki  Dalang Tangsub mengamati perilaku manusia dalam keseharian. Tokoh – tokohnya adalah orang – orang yang bergelut dengan kehidupan sehari – hari dalam sebuah desa. Kekentalan suasana desa dengan kebiasaan – kebiasaan diungkapkannya  . Tokoh – tokoh yang jika dipilah menjadi dua tokoh berkarakter baik, dan berkarakter  kurang baik. Hal ini mengindikasikan manusia...

Read More

Penghilangan Teks dalam Pengembangan Basur

Teks geguritan Basur yang ditulis oleh Ki Dalang Tangsub selama ini  dua yang penulis temukan. Teks Pertama, geguritan Basur yang ditranskripasikan oleh W. Simpen AB dan geguritan Basur transliterasi Made Sanggra. Kedua geguritan ini memiliki kelebihan masing – masing. Problematika yang diungkapkan pun amat beragam.Mulai dari masalah percintaan, harga diri, hubungan sosial, kehidupan mistis model Bali, obat – obatan, sarana penangkal kekuatan pengléakan,  sampai pada hakikat menjadi manusia yang menyadari dirinya sebagai manusia. Teks ialah ungkapan bahasa yang menurut pragmatik, sintaktik, dan semantik/ isi merupakan suatu kesatuan ( Partini Sardjono Pradotokusumo, 2005 : 34). Pengembangan teks geguritan Basur menjadi lebih panjang jika dibandingkan dengan Kidung Perembon ternyata ada   pada / bait – bait yang dihilangkan. Beberapa bait yang manumental seperti De ngadén awak bisa tidak ditemukan dalam geguritan Basur transliterasi Made Sanggra. Hal ini menarik karena pengembangan Basur ada bagian – bagian yang dihilangkan dan ada bagian yang dipanjangkan bahkan ada penambahan tokoh – tokoh,setting,  alur, dan konflik yang diungkapkan pengarang. Pengembangan tokoh, misalnya dengan penambahan Ni Garu yang digambarkan sebagai seorang perempuan yang suka menggoda  pria meski si pria tidak menaruh hati padanya. Di samping itu, penggambaran fisiknya kurang dirawat. Seorang perempuan yang digambarkan secara fisik dan psikhis kurang sehat. Pengarang ingin menyampaikan bahwa gambaran fisik berbanding lurus dengan  psikhis. Penggambaran model ini seakan mendikte perempuan yang berpenampilan kurang berkenan secara kejiwaan juga sama.            Setting waktu, tempat, dan...

Read More

Kekuasaan Patriarki dalam Basur

Patriarki dapat dikatakan sebagai salah satu bentuk kuasa ayah terhadap anak. Setiap keputusan berada pada pihak ayah. Penghormatan,, penghargaan terhadap perempuan amatlah rendah.  Patriarkhi lebih mendominankan pria dalam mengambil sebuah kebijakan,atau sebuah  keputusan. Keputusan yang diambil bisa membuat orang lain menjadi lebih berharga bisa juga sebaliknya. Yang berbahaya dalam patriarki adalah adanya kesewenang – wenangan dalam mengambil keputusan. Segala ditentukan oleh yang berkuasa yang dituakan. Dalam pemikiran yang dituakan terkandung pengertian, yang bersangkutan dianggap mampu untuk memberikan jalan yang terbaik dari sebuah permasalahan. Karya  sastra merekam budaya patriarki. Baik dalam karya sastra modern maupun dalam karya sastra klasik. Sehingga memunculkan trend sastra gender atau feminis. Hal ini sebagai reaksi terhadap budaya patriarkhi. Yang sering menjadi korban patriarkhi umumnya perempuan. Ada semacam pandangan bahwa perempuan dianggapnya lemah. Padahal, dalam kenyataan teramat banyak perempuan – perempuan yang tangguh. Dalam karya klasik misalnya, Ratu Nateng Dirah, yang mampu menjadi penguasa terhadap ilmu pengeleakan. Meski begitu, masih juga dalam perjalanan sastra sosok perempuan dijadikan korban kekuasaan pria. Kekuasaan sering dimaknai secara sederhana sebagai suatu dominasi yang dilakukan oleh orang lebih kuat secara fisik dan mental kepada orang yang lebih lemah atau yang dilakukan oleh orang terkenal atau orang yang mempunyai posisi sosial lebih tinggi kepada mereka yang memiliki posisi sosial lebih rendah. Kekuasaan adalah suatu tingkatan yang dimiliki seseorang karena popularitas, kekuatan fisik, atau manipulasi legal ( Johnson dan Freedman, 2005 dalam Endah...

Read More

Basur, Cerita Perlawanan Hegemoni

Sebagai sebuah cerita, Basur dibangun oleh unsur intrinsik dan ekstrinsik. Penggabungan ini akan semakin kompleks jika seorang pengarang memiliki kemauan, kemampuan, penghayatan terhadap persoalan – persoalan yang menyebabkan sebuah karya sastra itu lahir. Karya sastra bukanlah lahir dari sebuah kekosongan. Ia berbicara dan menyuarakan masyarakat yang ingin diejawantahkan oleh seorang penulis. Bahasa sebagai sarana untuk merefleksikan persoalan – persoalan sosial yang mengusik seorang penulis. Apalagi sastrawan sekaliber Ki Dalang Tangsub yang karyanya sudah membumi bahkan terkadang tanpa disadari  dilantunkan atau dikutip dalam setiap pembicaraan adalah hasil renungan Ki Dalang Tangsub. Sebuah karya sastra akan bisa eksis hidup jika mampu menyuarakan problematika yang dihadapi masyarakat pada zamannya. Problematika – problematika ternyata ada benang merahnya dengan problematika yang dihadapi masyarakat dalam kekinian. Masa ini tidak bisa dilepaskan oleh masa lalu. Pengarang lewat karyanya bisa mengatasi sang waktu. Artinya, karyanya tidak lekang oleh waktu. Ia akan terus berbicara selama manusia ingin menggali yang terdapat di dalamnya. Nilai – nilai inilah yang perlu direnungi diresapi, dihayati sehingga karya sastra itu berguna dan bermanfaat bagi kehidupan. Salah satu yang unik dalam geguritan Basur ini adalah Ki Dalang Tangsub berkeinginan menyuarakan perempuan. Konsep, ide, gagasan, cita – cita, dan cinta  dalam diri seorang tokoh Garulah itu diwakilkannya. Perempuan yang tidak boleh diremehkan lagi. Perempuan yang pemberani, tegas, dan tegar dalam menghadapi cibiran dalam masyarakat. Tokoh yang menentang sebuah hegemoni yang diciptakan seorang pria, Gede Basur. ...

Read More