Bulan: Juni 2013

Berguru pada Rembulan dan Matahari

Mencari guru tidak mudah. Menerima murid juga tidak mudah. Ia harus diuji. Jika bisa melewati ujian, barulah diterima. Aku salah satu yang gagal dalam melewati beberapa ujian. Kuputuskan untuk mencari guru sendiri. Aku mengadu pada matahari. Aku mengadu pada rembulan. “Matahari, kau sebagai saksi siang hari sudah melihat kegagalanku mencari guru. Kau mesti memberikan jawaban.” Malam juga kumengadu. “Rembulan, kau saksi malam hari. Kau mesti bisa mencarikan jalan keluar. Apa kau mau hidupku tanpa guru? Tentu tidak,” jawabmu. “Kalau tidak bantulah aku.” Kedua sinar itu tak ada yang menjawab. Aku tak mau putus asa. Putus asa tidak akan memberikan harapan. Kutatap wajahnya setiap pagi. Kutatap wajah rembulan setiap malam. Keduanya terkadang tersenyum terkadang murka. Aku tak peduli. Toh keduanya jauh di atas sana. Tak mungkin akan menuruniku. Jika matahari dan rembulan mendekatiku bukan hanya aku saja yang terbakar atau tertimpa rembulan. “Apa maumu, Nyoman?” Aku membalikkan wajahku. Aku tak bisa berkata sepatah pun. Kulihat seperti wajah matahari di hadapanku. “Kenapa tak panas?” bisikku. “Maaf siapa kau?” “Aku matahari yang kau tatap setiap pagi.” “Ah, aku tak percaya. Matahari panas, sedangkan kau biasa-biasa saja.” “Baiklah!” Tiba-tiba panas memancar dari tubuhnya. Ia membakar tubuhku. Kulit dan tulang belulangku hancur menjadi abu. “Gimana, percaya tidak aku ini Matahari?” Aku menyembah berkali-kali. “Kau memang matahari. Tapi, kalau aku menjadi abu, aku tak bisa menatapmu setiap pagi. Lagi pula aku tak bisa berguru padamu.”...

Read More

Bawang Putih dan Bawang Merah

Alkisah di suatu negeri kaya raya. Konon, tongkat kayu bisa jadi tanaman. Hiduplah sebuah keluarga yang kadang-kadang akur dan kadang-kadang tak terurus. Keluarga ini memiliki dua orang putri yang sedang menginjak remaja.  Bawang Putih dan Bawang Merah namanya. Orang tuanya sering kalang kabut dibuatnya mungkin karena keduanya sering dikunjungi oleh para jejaka. Hp-nya tak pernah lepas dari tangannya. “Bawang Putiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiih! Ke mana adikmu?” “Ia menghilang Bu.” “Mengilang? Maksudmu?” “Tadi, Hp-nya terus berdering. Aku yakin ia pergi bersama kekasihnya.” “Kekasihnya? Beraninya anak itu bercinta dengan laki-laki yang ibu benci itu.” “Itulah Bu. Ia anak yang bandel. Tak pernah mendengar nasihat Ibu. Diusir saja Bu!” “Diusir?” “Benar! Untuk apa punya anak seperti dia sukanya keluyuran dengan kekasihnya.” Ibu Bawang Merah mengerjitkan keningnya. “Benar juga perkataan Bawang Putih. Tapi, aku seorang ibu, apa benar tindakanku itu. Jangan-jangan ia berterima kasih karena aku usir.” Orang tua Bawang Merah gelisah. Kelakuan anaknya mengganggu ketenangannya. Bahkan, orang-orang di lingkungannya mengisukan Bawang Merah sudah sering mengajak laki-laki lain. Yang teranyar isunya, Bawang Merah sudah berbadan dua. “Bawang Putih! Sekarang juga, cari Bawang Putih. Ia sudah terlalu lama menghilang.” “Di mana saya cari, Bu.” “Entah ke mana pun kakimu melangkah.” “Tidak bisa seperti itu, Bu. Gimana kalau kita laporkan sama polisi?” “Bisa juga. Silakan kau ke kantor polisi!” Bawang Putih melaporkan adiknya.”Pak, adikku menghilang.” “Di mana hilangnya.” “Nah, itu yang saya tidak tahu. Justru itu yang saya...

Read More
  • 1
  • 2