Alkisah di suatu negeri kaya raya. Konon, tongkat kayu bisa jadi tanaman. Hiduplah sebuah keluarga yang kadang-kadang akur dan kadang-kadang tak terurus. Keluarga ini memiliki dua orang putri yang sedang menginjak remaja.  Bawang Putih dan Bawang Merah namanya. Orang tuanya sering kalang kabut dibuatnya mungkin karena keduanya sering dikunjungi oleh para jejaka. Hp-nya tak pernah lepas dari tangannya.

“Bawang Putiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiih! Ke mana adikmu?”

“Ia menghilang Bu.”

“Mengilang? Maksudmu?”

“Tadi, Hp-nya terus berdering. Aku yakin ia pergi bersama kekasihnya.”

“Kekasihnya? Beraninya anak itu bercinta dengan laki-laki yang ibu benci itu.”

“Itulah Bu. Ia anak yang bandel. Tak pernah mendengar nasihat Ibu. Diusir saja Bu!”

“Diusir?”

“Benar! Untuk apa punya anak seperti dia sukanya keluyuran dengan kekasihnya.”

Ibu Bawang Merah mengerjitkan keningnya. “Benar juga perkataan Bawang Putih. Tapi, aku seorang ibu, apa benar tindakanku itu. Jangan-jangan ia berterima kasih karena aku usir.”

Orang tua Bawang Merah gelisah. Kelakuan anaknya mengganggu ketenangannya. Bahkan, orang-orang di lingkungannya mengisukan Bawang Merah sudah sering mengajak laki-laki lain. Yang teranyar isunya, Bawang Merah sudah berbadan dua.

“Bawang Putih! Sekarang juga, cari Bawang Putih. Ia sudah terlalu lama menghilang.”

“Di mana saya cari, Bu.”

“Entah ke mana pun kakimu melangkah.”

“Tidak bisa seperti itu, Bu. Gimana kalau kita laporkan sama polisi?”

“Bisa juga. Silakan kau ke kantor polisi!”

Bawang Putih melaporkan adiknya.”Pak, adikku menghilang.”

“Di mana hilangnya.”

“Nah, itu yang saya tidak tahu. Justru itu yang saya mau laporkan.”

“Sejak kapan menghilang?”

“Sudah sebulan.”

“Sebulan? Kenapa baru dilaporkan? Mestinya setelah dua hari saja menghilang, sudah dilaporkan.”

“Sebelumnya, sudah sering pergi. Saya kira akan pulang kembali. Tapi, setelah dua hari bahkan sampai sekarang belum juga pulang.”

“Baiklah kalau itu yang diinginkan. Nanti, saya kordinasikan dulu. Semoga cepat tertangani. Kalau bisa, diberitakan juga di media massa.”

“Baiklah Pak!”

Berita mulai beredar. “Telah hilang seorang remaja, Bawang Merah. Barang siapa yang menemukan tolong menghubungi Bawang Putih atau alamat yang tertera di bawah ini.”

Beberapa orang berpartipasi mencari Bawang Merah. Tidak ketinggalan keluarga Bawang Merah. Berita cetak dan elektronik mewartakan. Sampai detik ini, Bawang Merah belum juga bisa terdeteksi. Rumor beredar. Bawang Putih bisa saja dimutilasi. Di lingkungannya, ditemukan mayat membusuk karena dimutilasi. Diperkirakan mayat itu Bawang Merah.

Orang tua Bawang Merah melakukan tes DNA. Ternyata mayat itu bukan Bawang Merah. Lagi-lagi ibunya pusing. “Bawang Putih! Bawang Putih! Cari Bawang Merah! Cepaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaat!”

Berkali-kali ibu Bawang Putih memanggil namanya. Namun, tak ada yang menjawabnya. Ibunya memasuki kamarnya. Ternyata Bawang Putih juga menghilang.

“Apa maunya Bawang Putih? Bawang Putiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiih! Bawang Putiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiih!” tetap tak ada yang menyahut. Tetangga sebelahnya ditanyai juga tak bisa memberikan jawaban yang pasti.

“Mungkin diculik, Bu.”

Orang tua Bawang Putih pingsan. Ia menjerit-jerit. “Bawang Merah! Bawang Putih pulaaaaaaaaaaaaaaaaaaang! Jangan tinggalkan ibu, Anakku.”

Orang-orang di negeri itu kalang kabut. Bawang Merah dan Bawang Putih, anak-anak terpilih meskipun sering membandel. Ia pintar bergaul. Pintar menghibur orang-orang di sekitarnya. Hampir semuanya merasa kehilangan. Mereka sepakat mengabadikan namanya menjadi tanaman. Beramai-ramailah mereka membudidayakan bawang merah dan bawang putih. Setiap hari, hampir semua masyarakat di sana membicarakan tata cara mengoah tanah agar tanamannya menjadi subur. Beberapa kali para petaninya bisa panen bawang merah dan bawang putih dengan hasil maksimal.

“Syukur ada Bawang Putih dan Bawang Merah. Karena kedua anak gadis itu kita bisa menikmati tanaman bawang merah dan bawang putih. Tidak perlu lagi mengeluarkan uang belanja untuk membeli bawang merah dana bawang putih.”

“Aku juga merasa berhutang pada Bawang Merah dan Bawang Putih. Jika ia masih ada pasti akan kujadikan menantu. Akan kujodohkan anakku.”

“Mana mungkin Bawang Putih dan Bawang Merah menerima anakmu.”

“Siapa tahu. Namanya juga usaha.”

Entah karena humus sudah berkurang, bawang merah dan bawang putih tidak bagus lagi.

Berita di media massa kembali ramai sama seperti saat Bawang Putih dan Bawang Merah menghilang. Para penguasa dan pengusaha menyatakan bawang merah dan bawang putih tidak akan bisa tumbuh lagi di negerinya. Maka, perlu bantuan dari negeri antah berantah. Para penguasa dan pengusaha bekerja sama. Bawang putih dan bawang merah gampang diperoleh. Pasar-pasar dipenuhi dengan bawang merah dan bawang putih. Para petani yang dulunya petani bawang merah dan bawang putih sudah menggadaikan tanahnya lebih-lebih pernyataan para penguasa dan pengusaha menguatkannya. Sebagai masyarakat desa, setiap yang disampaikan oleh para penguasa dan pengusaha ditelannya mentah-mentah.

“Sekarang kita dapat mempermainkan orang-orang goblok ini.”

“Maksudmu?”

“Aku sebagai penguasa. Kau pengusaha. Kita berjabat tangan untuk urusan bawang merah dan bawang putih. Biarkan bawang merah dan bawang putih hanya sebagai cerita saja.”

“Sekarang, stok bawang merah dan bawang putih jangan dikeluarkan. Biar harganya melambung. Dan kita bisa membagi keuntungan.”

“Sebagai pengusaha, aku setuju.”

“Tapi ingat persentasenya.”

“Oh, tentu. Nanti, akan kubagi-bagi biar tak ada yang protes.”

“Pintar juga kau.”

Kembali bawang putih dan bawang merah menghilang, orang-orang di negeri itu mencari-cari sisa-sisa tanaman yang masih  tumbuh sambil melantunkan lagu-lagu pujian pada bawang merah dan bawang putih: Bawang putih kembalilah. Kami rindu suaramu. Kami rindu ceriamu. Tumbuh dan tumbuhlah sebagai anak yang santun. Kembalilah Bawang Putih! Kembalilah Bawang Putih!”

Entah karena lagu atau karena rasa cintanya pada Bawang Putih dan Bawang Merah. Kedua tananam itu tumbuh subur. Tidak ada yang berani mengganggunya. Daun-daunnya yang menghijau tidak ada yang memetiknya. Kalau dulu, masih sempat membuat sayur daun bawang. Sekarang, sebagai penghormatan, tidak ada yang berani bermain-main.

“Nanti, akan kujadikan bibit bawang ini.”

“Aku lain lagi, aku berharap dengan tananam ini Bawang Putih dan Bawang Merah bisa kembali ke negeri ini.”

“Aku juga seperti itu. Ayo kita rawat dan jaga tananam yang kecil ini!”

Pertumbuhan bawang putih dan bawang merah mengganggu ketenangan para penguasa dan pengusaha. Kembali diisukan bahwa tanah yang ditanami bawang putih dan bawang merah akan disulap menjadi perumahan. Tanah-tanah yang dikelola oleh masyarakat itu katanya milik negara. Para petani mesti segera mengosongkan dan meninggalkan desanya tanpa ada uang pengganti.

“Gimana ini? Tanah kita akan diambil.”

“Kita protes beramai-ramai.”

“Pada siapa kita protes.”

“Ya, penguasa dan pengusaha itulah kita protes.”

“Kita rakyat kecil. Suara kita amat kecil.”

“Tapi, kita tak boleh menyerah. Menyerah berarti bertanding sebelum kalah.”

“Baiklah! Aku setuju.”

Masyarakat desa itu itu mendatangi DPR mendatangi anggotanya.

“Berikan kami hidup! Tanah ini sudah kami tempati bertahun-tahun. Nenek, kakek kami juga mengelola tanah ini.”

Anggota dewan yang terhormat itu tidak ada yang keluar. Satpam mengatakan sedang kunjungan kerja ke negeri asing. Katanya lagi sedang menjajagi budidaya tanaman bawang putih dan bawang merah. Masyarakat desa itu melanjutkan demonya ke kantor bupati, ke gubernur, ke presiden. Tak ada jawaban yang menggembirakan.

“Rasain. Tanahmu akan kujadikan lapangan golf. Nanti para penguasa dan pengusaha bisa menikmati daerahmu dengan suka cita. Akan kubuatkan makanan khas rasa bawang merah dan bawang putih biar lidahnya bisa menari-nari.”

Tanah masyarakat desa itu diratakan. Alat-alat berat didatangkan. Teriakkan dan tangisan tak ada yang mendengar. Berubahlah wajah desa itu menjadi lapangan golf yang tampak asri. Banyak penguasa dan pengusaha datang silih berganti. Setiap minggu, ramai menikmati permainan.

“Kau memang hebat. Tak salah kita berjabat tangan.”

“Orang-orang bodoh. Jika tanaman itu subur, kita tak bisa seperti ini. Setiap usaha rakyat yang mengganggu ketenangan, kita ambil alih mungpung lagi berkuasa.”

“Itulah kita. Manusia-manusia hebat. Bisa mengatur negeri ini.”

Siang itu, entah kenapa wajah-wajah penguasa dan pengusaha itu berubah menjadi Bawang Merah dan Bawang Putih. Orang-orang desa yang kehilangan Bawang Merah dan Bawang Putih tersentak kaget.

“Pasti ini pelakunya! Pasti ini pelakunya! Aku yakin mereka sengaja menghilangkan jejak Bawang Putih dan Bawah Merah. Ayo kejar mereka! Kejaaaaaaaaaaaaaaaaaar!” Penguasa dan pengusaha itu terbirit-birit seperti tikus comberan yang berusaha menyembunyikan dirinya.