Bulan: Juni 2013

Petani Indraprasta

Sawah Indraprasta memang dikenal subur dan makmur. Para petaninya mengolah pertaniannya dengan memadukan teknologi pertanian dengan adat kebiasaan yang diterimanya secara turun-temurun. Hampir tidak pernah para petaninya mengeluh. Sawah-sawahnya ditatanya secara terasering. Indah kelihatannya. Banyak para pelancong yang tertegun melihat keindahan sawah-sawah di Indraprasta. Kotoran sapi diolahnya dijadikan pupuk organik. Jerami-jerami diolahnya menjadi kompos. Hampir tidak ada yang terbuang. Lenguhan kerbau dan sapi menambah semangat para petani di Indraprasta untuk mempersembahkan yang terbaik. Pada saat-saat tertentu utamanya pada hari raya suci, para petani mempersembahkan sesajen sebagai ungkapan atas karunia Hyang Widhi pada umatnya. Kegembiran tersirat di hati para petani. Ada yang melantunkan geguritan sebagai ucapan syukurnya. Kedamaian dan keindahan seakan menyatu dalam keseharian hidupnya. Mata air yang berada di hulu sungai dirawatnya seperti merawat hatinya. Tak pernah sampai debitnya berkurang. Pohon-pohon yang tumbuh di samping kanan-kirinya dijaganya seperti menjaga pikirannya agar tak terkotori oleh keinginan-keinginan. Tak ada yang berani menebangnya. Dibiarkan tumbuh subur sesubur jiwanya. Pohon beringin, beberapa pohon lain dan juga bambu dijaganya. Beragam bambu tumbuh di tebing sungai. Di samping untuk menahan longsoran tanah juga menambah asrinya sungai. Liukan ujung bambu seperti mengucapkan terima kasih karena dijaga dengan cinta kasih.  Darmawangsa memang memberikan rakyatnya mencari bambu kalau ada upacara besar. Kalau tidak, tidak boleh menebang. Itupun kalau bambu yang sudah berusia tua. Tidak sembarangan bambu bisa diambil. Suara sunari memanggil-manggil burung pipit agar mendekat. Beberapa burung meliuk-liukkan...

Read More

Negeri Subak

Darmawangsa merasa tidak enak pada rakyatnya. Rakyat baginya lebih utama dibandingkan dengan kekuasaan yang dipikulnya. Ia malu saat beberapa rakyatnya tidak bisa melanjutkan produksi tempe, tahu dan beberapa makanan kecil hanya gara-gara kedelai. Lebih malu lagi, Hastinapura dulunya dikenal swasembada pangan tiba-tiba rontok. Bahkan kesan kemiskinan menghiasi kehidupan rakyatnya. Kesejahteraan hanya sebuah mimpi yang seakan-akan susah untuk diraihnya. Negeri tempe sebagai ikon Hastinapura rontok. Negeri gemah ripah lohjinawi  tiba-tiba tak memiliki kedelai. Terus ke mana swasembada dulu? Apakah hanya sebagai obat penenang agar tampak makmur padahal kemiskinan menjadi sahabat setia kehidupan? Darmawangsa memangil semua adik-adiknya, sahabat-sahabatnya. “Adik-adikku. Sudahkah kau dengar suara rakyatmu?” “Suara apa, Kakak?” tanya Bima, Arjuna, dan Nakula-Sahadewa. “Rakyat kita tidak bisa melanjutkan produksinya hanya gara-gara tidak ada kedelai. Beberapa usaha bahkan ada yang gulung tikar. Adikku pasti sering melihat tahu dan tempe menjadi sahabat dari nasi rakyat kita. Kakak lihat kedelai hilang di pasaran. Harganya pun melonjak tinggi.” Keempat adik Darmawangsa saling tatap. Mereka selama ini telah melupakan rakyat kecilnya. Terlalu sibuk dengan kesenangannya masing-masing. Bima jarang makan tempe apalagi tahu. Ia sukanya serba instan dan berkalori tinggi. Daging paling utama. Arjuna lain lagi. Ia sukanya piknik ke negeri lain. Lupa dengan negeri sendiri. Katanya studi banding. Entah apa yang dibandingkan. Nakula-Sahadewa sibuk dengan kuda-kudanya. Sering ke salon untuk merias wajahnya hingga lupa merias negerinya. Hampir setiap minggu mengadakan lomba busana. Keringat dingin meleleh di tubuh...

Read More

Kisah-kisah Masa Kecil

Gancaran Mersun Judul Buku      : Gancaran Mersun Penulis             : Wayan Paing Penerbit           : Pustaka Ekspresi, 2012 Tebal               : 55 Halaman Wayan Paing sebagai salah seorang guru di SDN 6 Bunutan dan seorang penulis produktif mengumpulkan karya-karya prosanya (gancaran) dalam satu buku dengan mengambil salah satu prosanya, “Mersun”. Kumpulan prosa  ini memuat 18 prosa. Prosa-prosa  dalam “Mersun” ini hampir semuanya pernah dimuat di dalam  Bali Orti. Ciri khas dari prosa Wayan Paing mengisahkan masa kecil masyarakat pedesaan dengan segala suka-dukanya. Sebagai seorang guru, Wayan Paing menyisipkan nilai-nilai pendidikan moral, budi pekerti dalam prosa-prosanya. Tidak sakadar prosa biasa, prosa yang di dalamnya mengisahkan nilai-nilai pendidikan yang sekarang ini sudah mulai terkikis. Wayan Paing secara tidak langsung ingin menyampaikan beberapa media sosial kemasyarakatan bisa dijadikan ajang menularkan, meneruskan, dan mengaplikasikan nilai-nilai pendidikan yang diwariskan oleh para leluhur. Paing mengajak pembaca untuk mengenal lebih dekat budaya yang bisa dijadikan media pembelajaran. Media-media itu misalnya, mejuug ‘mengumpulkan hasil usaha selanjutnya dibagi rata’ Mersun ‘mandiri’ matelisi ’menabung bersama’. Meski untuk anak-anak masa sekarang, media itu sudah jarang dilakukan. Paing mendokumentasikan budaya lokal yang mengedepankan masyarakat desa yang masih komunal-agraris. Dunia anak-anak penuh dengan keceriaan, kegembiraan, kekeluargaan, serta kerja sama untuk saling berbagi antarsesama diungkapkan oleh Paing amat menarik untuk dicermati. Paing mengisahkan sebuah keluarga desa yang harmonis dengan pola pikir yang sederhana, kerja keras, suka berbagi, saling membantu. Sebuah keluarga desa tidak banyak permintaan ....

Read More

Strukturalisme Genetik Cerpen “ Blagbag “

Strukturalisme Genetik Cerpen “ Blagbag “ Karya  Gede Aries Pidrawan Ida Bagus Wayan Widiasa Keniten Abstrak: Cerpen “Blagbag (Pasung) karya Aries Pidrawan sebuah cerpen yang baik meskipun bukan merupakan karya besar. Tokoh-tokoh yang ditampilkan sesuai dengan latar belakang sosialnya sehingga cerpen ini menjadi padu. Kepaduan itu terlihat dari penokohan yang diungkapkan oleh pengarang. Tokoh dan penokohan menyiratkan pandangan pengarang terhadap kehidupan sosial masyarakat. Pengarang masih melihat adanya ketidakbebasan perempuan desa sehingga diperlukan sebuah perubahan yang ditawarkan oleh pengarang dengan menghadirkan tokoh psikiater. Strukturalisme genetik sebagai pendekatan  dan juga sebagai metode  digunakan dalam menganalisis cerpen “Blagbag”. Strukturalisme genetik mengkaji karya sastra dalam kaitannya dengan ide atau gagasan pengarang dengan kehidupan sosial masyarakat. Strukturalisme genetik berjalan bolak-balik dari teks ke konteks dan kembali ke teks. Secara strukturalisme genetik, cerpen “Blagbag” menyiratkan ide atau gagasan pengarang terhadap keterikatan yang dialami tokoh perempuan. Perempuan perlu mendapatkan tempat yang sejajar sehingga kesetaraaannya dapat terwujud. Kata kunci : strukturalisme genetik, penokohan, pandangan dunia sosial   I.Pendahuluan 1.1 Latar Belakang Sebuah karya sastra dibangun oleh unsur-unsur yang saling berkaitan. Unsur-unsur itu  merupakan satu-kesatuan. Unsur-unsur dalam karya sastra seperti tema, alur, setting, penokohan, tokoh,  saling berkaitan. Unsur-unsur di atas diistilahkan dengan unsur struktural sebuah karya sastra. Sebuah karya sastra menurut kaum strukturalisme adalah sebuah totalitas yang dibangun secara koherensi oleh berbagai unsur pembangunnya. Analisis struktural dilakukan dengan mengidentifikasi, mengkaji, dan mendeskripsikan fungsi dan hubungan antarunsur intrinsik fiksi...

Read More

Drama Bali Modern : Putihe Masawang Selem

Adegan I Punggawa medal, peliatne sakadi anak paling, inguh. Penyeroan Punggawa medal makta wedang: Penyeroan         : “Saking nuni kantenang titiang Gusti Aji sakadi anak paling. Minab nue sesepalan anyar. Utawi selingkuhan?” Punggawa          : “Apa koraang? Sesepelan? Selingkuhan? Eda patuhanga cara anak len!” Panyeroan         :”Titiang sampun uning dagange sane ba delog punika sira seringan ngajak malali? Mangkin kocap sampun madaging. Sareng matungin?”( panyeroan sarwi kedek) Punggawa         (meneng)” Tusing baan ento. Yen nganggurin saja pepes. Sakewala, tusing bani ngendah. Bli ene suami yang baik hati. Tawang!” Panyeroan         :“Sira ngega?” Punggawa         :”Lamun tusing. Sing mamaksa.” Panyeroan         :”Dados paling pisan kantene?” Punggawa         : (ngambil wedang). “Ibi pisagane kelangan sampi. Ipoan kelangan celeng. Itelun kelangan pipis. Ipetang dina kelangan mas-masan. Ilimang dina ada kelangan sertifikat tanah.” Panyeroan         :”Ipun madue antes kelangan.” Punggawa         :”Munyine ento suba ane tusing demenin. Bli ene punggawa. Ngisiang gumi yadiastun cerik. Dija prabelane teken parajana?” Panyeroan         :”Sampunang bangetanga. Sane penting titiang setata polih malegan-legan sareng Gusti Aji. Polih malancaran ka Singapura, ka Jepang. Polih indeng-indeng makta Ipad. Rekeninge sayan madaging. Okan-okan Gusti Aji indeng-indeng makta mobil anyar. Ngujang nika wilangin.” Punggawa         :”Stttttttttttttt! Eda uyut-uyut. Ento nyanan dingeha. Bisa tangkep KPK. Bisa masel. Demen mesel?” Panyeroan         :” Ten kenapi masel. Sakewanten sele mangda dados hotel. Genahin sareng kalih.” (hihihihi). Punggawa         :”Dadi pamimpin apang ngenah prabela. Patut tureksa teken parajana. Kenken carane apang malinge kaejuk?” Panyeroan         :”Dangan rerehang polisi. Titiang sareng Gusti...

Read More
  • 1
  • 2